Friday, 13 January 2012

Pandangan Agama Islam Terhadap Teroris


 
 
A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Bagaimana sebenarnya terorisme dan islam?. Kedua hal ini sering terjadi kesalah pahaman yaitu mengenai konsep islam yang sering di kaitkan dengan kasus-kasus terorisme yang terjadi di dunia. Meninjau keterlibatan tentang kedua hal tersebut, dalam makalah ini akan membahas bagaimana ketelibatan islam dalam gerakan terorisme. Pembahasan dalam makalah ini didasari dengan hukum-hukum islam dan motif adanya isu-isu yang salah sehingga memojokan islam yang di anggap sebagai agama atau keyakinan yang syarat akan kekerasan dan ideologi yang keras.
Dalam islam sendiri mengenal adanya Jihad yaitu berjuang di jalan Allah, makna inipun kadang di salah artikan sebagai suatu tindakan yang tidak memiliki konsep hak asasi manusia karena secara keyakinan berjuang untuk agama adalah kewajiban dan untuk merealisasikannya dengan cara membunuh atau membinasakanpun di anggap sah dan diperbolehkan. Anggapan seperti inilah yang sering dikaitkan dengan gerakan terorisme, justru sebenarnya terorisme hanyalah isu yang sengaja dikaitkan dengan keyakinan islam yang benar. Isu tersebut dimanfaatkan untuk merusak dan menghancurkan keyakinan islam, yaitu bahwa islam adalah agama radikal dan keras yang tidak menghargai demokrasi dan kebebasan-kebebasan lainnya.
Islam memang mengatur tentang kehidupan di dunia, kebebasan tidak dipergunakan secara salah dan berlebihan hal ini untuk kebaikan manusia sendiri. Maka dari itu islam mempunyai hukum yang ketat, dan aturan yang tidak bisa ditawar secara logika karena semuanya telah diatur dalam Al-Qur’an sebagai wahyu yang sempurna. Jihad pun dalam islam ada aturan dan ketentuan yang harus dipatuhi bukan semata-mata tindakan menghancurkan yang sering dikaitkan dengan terorisme. Makalah ini adalah untuk meluruskan bahwa terorisme dan islam adalah kedua hal yang saling bertolak belakang

2.      Rumusan Masalah
a.       Apa itu terorisme?
b.      Bagaimana bisa terjadi tindakan terorisme?
c.       Bagaimana pandangan islam tentang terorisme?
d.      Mengapa Ideologi islam sering dikaitkan dengan gerakan terorisme
e.       Apa hal yang mendasari isu bahwa islam  syarat dengan gerakan terorisme
f.       Bagaimana sebenarnya konsep islam mengenai jihad dan radikalisme
g.      Bagaimana solusi terhadap tindakan terorisme?

3.      Tujuan
a.       Menjelaskan pengertian terorisme
b.      Menganalisa bentuk-bentuk terorisme
c.       Memberi gambaran tentang terorisme dan islam yang sebenarnya
d.      Mengklarifikasi tentang isu terorisme yang selalu dihubungkan dengan ideologi islam
e.       Meluruskan konsep jihad dalam islam
f.       Menghindarkan kesalahpahaman tentang islam radikal
g.      Mengembalikan keyakinan dunia tentang islam yang sebenarnya
h.      Meyakinkan bahwa agama islam adalah keyakinan yang cinta damai dan terarah
i.        Menjelaskan keterkaitan islam mengenai terorisme dan hukum dalam Al-Qur’an
j.        Menjauhkan islam dari keyakinan-kayakinan yang salah dan dimanfaatkan sebagai media perpecahan untuk menghancurkan islam.

B.     PEMBAHASAN
a.      Pengertian Terorisme
Terorisme adalah Tindakan yang menggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan, dalam usaha mencapai suatu tujuan (terutama tujuan politik). Teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut (biasanya untuk tujuan politik). Teror  adalah perbuatan sewenang-wenang, kejam, bengis, dalam usaha menciptakan ketakutan, kengerian oleh seseorang atau golongan.
Sesuai dengan pengertian tersebut sebenarnya sudah jauh dari konsep islam sebenarnya yang tidak mempebolehkan kekerasan dan kejahatan dalam bentuk apapun sesui dengan  HR. Ahmad juz 7, hal. 410, no. 20874:
 
Kejahatan dan perbuatan jahat, keduanya sama sekali bukan ajaran Islam. Dan orang yang paling baik Islamnya ialah yang paling baik akhlaqnya. [HR. Ahmad juz 7, hal. 410, no. 20874].
Karakteristik terorisme dapat ditinjau dari dua karakteristik, yaitu : pertama, karakteristik organisasi yang meliputi: organisasi, rekrutmen, pendanaan dan hubungan internasional. Karakter operasi meliputi: perencanaan, waktu, taktik dan solusi. Kedua, karakteristik perilaku: motivasi, dedikasi, disiplin, keinginan membunuh dan keinginan menyerah hidup-hidup.
          Karakteristik sumber daya yang meliputi: latihan/kemampuan, pengalaman perorangan dibidang teknologi persenjataan, perlengkapan dan transportasi. Motif terorisme: teroris terinspirasi oleh motif yang berbeda. Motif terorisme dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori: rasional, psikologi dan budaya yang kemudian dapat dijabarkan lebih luas menjadi: membebaskan tanah air dan memisahkan diri dari pemerintah yang sah.
                        Kejahatan terorisme tergolong dalam kategori teori konspirasi. Menurut Bill, teori konspirasi yaitu teori yang menjelaskan penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok organisasi rahasia, orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.
b.      Bagaimana tidakan terorisme bisa terjadi
            Gerakan terorisme di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia Tenggara dan Indonesia. Umumnya didasari karena faktor politik karena hal tersebut merupakan faktor terpenting dalam dunia internasional. Hal tersebut juga terjadi karena adanya keinginan dalam mementingkan kepentingan sendiri dan ingin merebut alih kekuasaan dunia. Maka teori konspirasilah yang akan berperan dengan mengadu domba mengatasnamakan teroris.  Tindakan terorisme ini tergolong adalam teori konspirasi, karena kasus terorisme ini direncanakan diam-diam oleh kelompok, organisasi rahasia, orang-orang atau organisasi dimana dalam kasus terorisme ini pelaku sudah merencanakan terlebih dahulu tindakannya tersebut secara diam-diam.
            Akibat dari timbulnya gerakan terorisme yaitu banyaknya orang-orang yang menjadi korban. Kerusakan gedung-gedung serta fasilitas umum, timbulnya saling curiga antara agama satu dengan agama lain, Negara satu dengan Negara lain, dan lain-lain. Dalam tindakan terorisme merupakan dimensi kekerasan yang terjadi secara fisik, yang kemudian menimbulkan korban dan pertumpahan darah. Kekerasan dalam terorisme bukan hanya terjadi secara fisik tetapi secara jasmani dan mental.

c.       Pandangan islam tentang terorisme
            Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW dengan membawa agama islam di tengah-tengah manusia ini sebagai rahmat, dan merupakan suatu kenikmatan yang besar bagi manusia bukan suatu musibah yang membawa malapetaka. Allah SWT berfirman:
 
Sungguh Allah telah member kenikmatan kepada orang-orang mukmin ketika Allah mengutus dikalangan mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [QS. Ali Imran : 164]
                                    Dari ayat-ayat tersebut dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain, menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan islam yang diserukannya, benar-benar membawa rahmat di alam semesta ini, dan mengeluarkan manusia dari gelap gulita (tanpa mengetahui tujuan hidup), kea lam terang benderang, sehingga mengetahui jalan yang lurus, membebaskan dirinya dari kesesatan menuju jalan yang menyelamatkan hidupnya di dunia dan akhirat kelak. Bahkan sebelum Nabi menyerukan Islam, manusia selalu dalam kekacauan dan permusuhan, sebagaimana peringatan Allah dalam surat Ali Imran : 103
 
Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara …
 [QS. Ali Imran 103]
Oleh karena itu seharusnyalah manusia bersyukur kepada Allah atas diutusnya Nabi Muhammad SAW membawa dinul Islam ini. Karena hanya dengan Islamlah manusia di dunia ini dapat hidup rukun, damai dan saling menebarkan kasih sayang. Dengan mengabaikan Islam, maka dunia akan kacau-balau, terorisme timbul di mana-mana seperti sekarang ini.
Agama Islam yang suci ini dibawa oleh Rasulullah yang mempunyai kepribadian yang suci pula, serta memiliki akhlaqul karimah dan sifat-sifat yang terpuji, sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi, antara lain :
 
Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. [QS. Ali Imran : 159]
 
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
            [QS. At-Taubah : 128]
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki sifat lemah-lembut serta hati beliau terasa amat berat atas penderitaan yang menimpa pada manusia, maka beliau berusaha keras untuk membebaskan dan mengangkat penderitaan yang dirasakan oleh manusia tersebut.
Setelah kita cermati kembali tentang dinul Islam sekaligus peribadi Rasulullah SAW yang diamanati oleh Allah SWT untuk menyebarkan dinul Islam ke seluruh ummat manusia, maka jelas sekali bahwa terorisme sama sekali tidak dikenal, bahkan bertolak belakang dengan ajaran Islam.
Terorisme dengan menggunakan kekerasan, kekejaman serta kebengisan dan cara-cara lain untuk menimbulkan rasa takut dan ngeri pada manusia untuk mencapai tujuan.
Sedangkan Islam dengan lemah-lembut, santun, membawa khabar gembira tidak menjadikan manusia takut dan lari, serta membawa kepada kemudahan, tidak menimbulkan kesusahan, dan tidak ada paksaan.
Bahkan dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa dalam peperangan pun Nabi SAW berpesan kepada para shahabat, sabda beliau :
 
Hai manusia, janganlah kamu menginginkan bertemu dengan musuh, dan mohonlah kepada Allah agar kalian terlepas dari marabahaya. Apabila kalian bertemu dengan musuh, maka bershabarlah dalam menghadapi mereka, dan ketahuilah bahwasanya surga itu dibawah bayangan pedang”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1372
Pesan Nabi SAW tersebut menunjukkan betapa kasih sayang beliau terhadap jiwa manusia, sekalipun dalam peperangan sedapat mungkin menghindari bertemu musuh agar tidak terjadi marabahaya. Namun kalau terpaksa bertemu dengan musuh, jangan takut dan jangan dihadapi dengan hawa nafsu yang melampaui batas, tetapi hendaklah dihadapi dengan shabar dan tabah, karena surga di bawah bayangan pedang.
Memang kedua hal tersebut mempunyai tujuan yang berbeda. Terorisme biasanya digunakan untuk tujuan politik, kekuasaan, sedangkan Islam bertujuan untuk menuntun manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya dengan dilandasi rasa kasih sayang hanya semata-mata mengharap ridla Allah SWT.
Oleh karena itu rasanya tidak berlebihan kalau ada orang yang mengatakan bahwa "politik itu kotor", karena dalam mencapai tujuannya dengan menghalalkan segala cara, sekalipun dengan terorisme. Dengan demikian bagi seorang muslim haram hukumnya mendukung, mengikuti alur politik yang menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan politiknya.
Yang demikian itu bukan berarti orang Islam tidak boleh berpolitik, tidak boleh meraih kekuasaan. Boleh berpolitik, tetapi tidak boleh keluar dari bingkai Islam, dengan tujuan untuk kejayaan Islam dengan mengharap ridla Allah semata-mata.
Dalam mencapai kesuksesan cita-cita harokahnya, Rasulullah melalui cara-cara yang ditunjukkan oleh Allah serta berusaha memenuhi persyaratan untuk memperoleh janji Allah, karena janji Allah pasti tepat dan tidak perlu diragukan.
Rasulullah SAW membina kekuatan dari bawah, sebagaimana firman Allah :
 
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan idzin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat-kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [QS. Ibrahim : 24-26]
Rasulullah membina dasar tauhid pada ummat manusia + 10 tahun di Makkah dengan penuh tantangan, tindak kekejaman dan terorisme dilakukan oleh orang-orang musyrikin dan kafirin Makkah terhadap Nabi dan para pengikutnya.
Namun teror-teror yang dilakukan oleh mereka tidak menjadikan kaum muslimin takut, malah makin bertambah kuat dan mendorong lebih dekat dan berserah diri (tawakkal) kepada Allah SWT.

d.      Mengapa ideologi Islam sering dikaitkan dengan gerakan terorisme.
Menurut Pandangan dunia khusunya dunia Barat yang mempunyai ideologi demokrasi kebanyakan menentang islam karena islam dianggap sebagai keyakinan yang berideologi totaliter yang menolak demokrasi, kebebasan pribadi, dan setiap agama lainnya. Anggapan seperti inilah yang digunakan sebagai alasan munculnya isu tentang terorisme yang selalu dihubungkan dengan islam.
Munculnya tindakan terorisme banyak diyakini terkandung unsur politik yang menggunakan kekuatan-kekuatan tidak sehat termasuk menggunakan senjata yang berbau sara yaitu agama. Agama diyakini merupakan kekuatan yang sangat mudah dihancurkan, dengan alasan agama manusia mampu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum yang berlaku.
Di negara-negara islam dimana tidak ada pemisahan secara resmi antara hukum dan agama. Hukum syariah adalah batu penjuru yang digunakan sebagai formulasi final dan akhir dari hukum Allah, hukum tersebut tidak dapat direvisi atau dirumuskan oleh hanya fana dan manusia bisa salah. Idealnya islam dan ajaran-ajarannya akan menjalankan negara dan semua hukum akan didasarkan pada kriteria dari Al-Qur’an.
Hal tersebut berbeda dengan cita-cita negara Amerika yang menghendaki kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan kebebasan pers, maka dari itu oleh amerika islam di anggap menghambat tentang kemajuan dari ideologi mereka dan merupakan keyakinan yang tidak memnuhi hak asasi manusia.
"Islam adalah agama revolusioner yang datang untuk menghancurkan pemerintahan manapun yang dibuat oleh manusia.. Islam tidak melihat bagi bangsa untuk menjadi lebih baik dalam kondisi lain dari bangsa Islam tidak peduli tentang tanah atau yang memiliki tanah. Tujuan Islam adalah memerintah seluruh dunia dan menyerahkan semua umat manusia kepada iman Islam,. Setiap bangsa atau kekuasaan di dunia ini yang mencoba untuk mendapatkan di jalan yang tujuan Islam akan melawan dan menghancurkan. "
-- Mawlana Abul Ala Mawdudi, founder of Pakistan's Fundamentalist Movement
- Mawlana Abul Ala Maududi, pendiri Pakistan Gerakan Fundamentalis.

Oleh karena pemikiran yang salah seperti di atas, menimbulkan berbagai persepsi yang salah tentang islam yang menjadikan islam harus dimusuhi dan dihancurkan. Salah satu cara adalah dengan menebar tentang isu terorisme yang bertujuan untuk menguasai dunia, di balik hal itu sebenarnya tersimpan misi politik yang tidak benar. Untuk menghancurkan islam adalah menyusupi muslim dengan ajaran radikal yang tidak terarah.

e.       Yang menyebabkan islam sering dikaitkan dengan terorisme
            Gerakan terorosme internasional sering dikaitkan dengan islam. Keberadaan teroris yang membawa bendera islam ini memang ada dan tidak bisa dikesampingkan aksi-aksinya. Keberadaan mereka tidak hanya mengancam peradaban barat, tetapi juga merusak islam itu sendiri. Banyak kelompok-kelompok teroris yang mengkaitkan gerakan terorisnya dengan agama islam melalui gerakan radikal dalam menggunakan konsep jihad yang mereka buat sehingga menimbulkan kontroversi dalam definisi jihad di dalam umat islam.
            Para golongan-golongan tertentu yang melakukan terorisme atas nama jihad, membuat masyarakat umum salah mengartikan pengertian jihad itu sendiri. Pada dasarnya pengertian jihad adalah perjuangann yang dilakukan oleh individu muslim maupun kelompok islam dalam menyiarkan agama islam, dan perjuangan-perjuangan lain yang lebih luas seperti: perjuangan dibidang pendidikan, kesehatan, moral, ekonomi, politik, keamana, hak dan kewajiban, lapangan pekerjaan, dan lain-lain dengan segenap kemampuan yang dimiliki.
Masalah yang jarang disentuh oleh media massa ketika mengangkat isu terorisme adalah ketidak adilan global. Padahal factor ketidakadilan gloal menjadi salah satu pemicu serangan terhadap barat atau ojek-objek yang dianggap berhubungan dengan barat. Penjajahan yang dilakukan barat di dunia islam, termasuk dukungan membabi buta barat terhadap penjajahan zionis Israel di palestina, merupakan cermin dari ketidak adilan itu.
            Adapun isu memerangi terorisme yang dilancarkan amerika dan sekutu-sekutunya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin. Musuh-musuh islam mencoba membidik islam dan kaum muslimin dibalik isu terorisme. Mereka takut dangan bangkitnya kaum muslimin. Dengan demikian mereka berusaha sekuat tenaga dan dengan bebagai macam cara untuk menghancurkan kebangkitan kaum muslimin. Salah satunya dengan melancarkan perang melawan terorisme.
            Saat umat islam menjadi tertuduh dan semua ketakutan dengan segala hal tentang islam, karena selalu dikait-kaitkan dengan isu terorisme. Para pelajar, aktivis islam dan semisalnya menjadi resah. Mereka khawatir dituduh dan dianggap sebagai sarang dan penyedia, serta membantu aktivitas terorisme.
                                    Gerakan-gerakan dakwah pun dicurigai meskipun gerakan dakwah itu terbuka dan tak ada sangkut pautnya dengan teroris. Beberapa orang pun mengawasi ketat anak remajanya yang mau pergi mengaji. Padahal hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka menanyakan ngajinya sama siapa, tempat dimana, dan segala macam secara berulang-ulang.
            Sikap paranoid muncul belakangan di beberapa daerah. Ini terjadi setelah televisi dengan sangat gencar menyebarkan berita terorisme. Bukannya obyektif, pemberitaan dimedia massa cenderung menstigmatisasi negative islam dan kaum muslimin. Sikap media ini tidak lepas dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menjadikan media sebagai corong dala menyerang islam dan kaum muslimin.
Telah terjadi trial by the press (pengadilan oleh meda massa), yang dampaknya jauh lebih kejam. Media pun tergiring oleh frame berpikir musuh-musuh Islam yang menggeneralisasi para teroris dengan Islam. Isu memerangi terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutu-sekutunya disebarluaskan dan dikerjakan oleh media massa yang pada hakikatnya untuk menghilangkan kebangkitan Islam.
Ironisnya, media massa seolah maklum saja dengan tindakan brutal Amerika dan sekutunya menebar bom dan kematian di mana-mana. Media massa tidak pernah menyebut mereka sebagai teroris, meski korban tewas jauh lebih banyak dan massif.
Media memang telah menjadi alat bagi kapitalisme global dalam mempertahankan hegemoninya. Di era informasi dimana kemenangan ditentukan oleh penguasa sumber-sumber informasi, media massa adalah salah satu pilar kapitalisme.
Barat paham betul bahwa Islam adalah musuh berikutnya setelah komunisme runtuh. Islam adalah ancaman. Karenanya, kebangkitan Islam mesti dihalang-halangi. Caranya bisa melalui hard dan soft power. Untuk itu barat dan antek-anteknya mendekonstruksi persepsi masyarakat terhadap Islam untuk melahirkan sikap moderat bahkan liberal. Mereka tidak mau Islam tampil apa adanya sesuai Al Quran dan As Sunnah. Sikap moderat dan liberal ini dianggap pas dengan hegemoni dan determinasi barat.
Sangat tidak mengherankan bila di tengah isu terorisme yang sedang hangat sekarang tiba-tiba muncul pernyataan beberapa tokoh yang mencoba menggeneralisasi bahwa terorisme itu adalah keinginan menerapkan syariah Islam dalam Daulah Islam. Mereka mencoba menebar ‘pukat harimau’ untuk menjaring aktivis pergerakan Islam.
Tak mengherankan bila banyak pihak yang menganalisis bahwa aksi-aksi terorisme di Indonesia ini sengaja dimainkan oleh pihak asing. Tujuannya adalah melemahkan umat Islam Indonesia sehingga Islam tidak bisa bangkit menjadi sebuah kekuatan yang besar di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.
f.       Konsep Islam mengenai Jihad dan Radikalisme
1.      Jihad
Menurut kamus al-Mawrid karya Albaki(1973:491), jihad berarti perang di jalan akidah(keimanan). Pengertian jihad secara konstekstual adalah usaha semaksimal mungkin untuk mencapai cita-cita, dan upaya untuk membela islam dengan harta, benda, jiwa, dan raga.
Jihad dalam pengertian kontekstual tersebut adalah perjuangan yang dilakukan oleh individu muslim maupun kelompoknislam dalam menyiarkan agama islam, dan perjuangan-perjuangan lain yang lebih luas seperti perjuangan dibidang pendidikan, kesehatan, moral, ekonomi, sosial, budaya, politik, keamanan, hak dan kewajiban, lapangan pekerjaan dengan segenap kemampuan yanmg dimiliki.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, Jihad berbeda dengan perang. Meskipun orang barat mengidentikan jihad sebagia perang untuk menyiarkan islam. Jihad yang diartikan perang, pandangan tersebut keliru dan menyesatkan. Kalaupun ada ayat yang menyampaikan untuk perang, hal tersebut dalam rangka mempertahankan diri dari gangguan dan penganiayaan dari pihak luar islam atau musuh-musuh islam, tidak boleh melampaui batas, dan untuk menghindari fitnah.
banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut diantaranya firman Allah Al-‘Aziz Al-Hakim :

قَاتِلُوا الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shogirun (hina, rendah, patuh)”. (QS. At-Taubah : 29).
Misi diturunkannya islam ke alam semesta ini adalah rahmatan lil alamin, dan sebagai pedoman manusia dalam mengemban misi utamanya yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Dengan demikian umat islam dituntut untuk selalu menjaga harmoni kehidupan di antara dua karakteristik yang ada seperti kecenderungan untuk membuat kerusakan di muka bumi dan potensi konflik antar sesama manusia.
2.      Radikalisme
Menurut istilah, radikalisme berarti pembaruan atau perubahan social dan politik yang drastic, atau sikap ekstrem dari kelompok tertentu agar terjadi pembaruan attau perubahan social dan politik secara drastic.
Dengan demikian, radikalisme umat beragama adalah paham yang memungkinkan perubahan atau pembaruan social, dan politik secara drastic dengan menggunakan sikap yang ekstrem. Radikalisme bukan ciri ajaran islam karena islam dalam menyiarkan agama menggunakan cara bijaksana, tutur kata yang santun, dan menggunakan cara berdebat yang dilandasi saling hormat-menghormati.
Terdapat beragam factor yang menyebabkan terjadinya radikalisme di kalangan umat beragama. Salah satu factor umum penyebab radikalisme adalah bahwa dilingkungan umat beragama apapun jenisnya selalu terdapat kelompok fundamentalis dan radikal. Fundamentalis dan radikalisme merupakan masalah dan tantangan bagi umat beragama.
Selain itu ada pula factor penyebab radikalisme yang bersifat khusus, diantaranya adalah agama digunakan sebagai pembenaran tanpa mengakui eksistensi agama lain. Kelompok radikal agama ini mengklaim agama dan kelompoknya sebagai yang paling benar.
Bentuk-bentuk radikalisme umat beragama ada beberapa jenis, yaitu: aksi terror, bom bunuh diri, saling menyerang, aksi kekerasan, intimidasi, perlawanan terhadap pemerintahanya, dll. Secara umum, radikalisme umat agama mengakibatkan terjadinya terror kekerasan bahkan menimbulkan konflik dan peperangan secara horizontal dan vertical, apalagi jika yang terlibat berasal dari agama yang berbeda.
Upaya untuk menaggulangi radikalismeumat beragama di Indonesia khususnya, dan di Negara-negara lain pada umumnya, dapat dilakukan dengan mengetahui secara tepat akar permasalahannya. Selanjutnya, dicari solusi yang tepat dan bijak dengan melibatkan pihak-pihak terkait, khususnya para pelaku radikalisme agama.

g.      Solusi terhadap tindakan terorisme
            Perekrutan dalam negeri bisa dengan efektif dicegah dengan melibatkan ormas islam dan ulama. Proses deradikalisai pemikiran harus berjalan, karena meski pernah masuk penjara, ideologi teror masih ada. Maka sia-sia saja usaha pemberantasan teroris.
            Dalam konteks Indonesia, bila para ulama benar-benar pandai menjelaskan konsep bernegara kita dengan Pancasila, nampaknya proses deradikalisasi bisa berhasil. Tidak satu silapun dalam Pancasila yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ketuhanan yang Maha Esa (Rabbaniyah Wattauhidiyyah), Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Insaaniyyah wal Akhlaqiyyah), Persatuan Indonesia (Wihdah wal Ukhuwah), Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan (Hikmah wal Musyawarah), dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Al Adaalah AL Ijmitma’iyyah).
            Permasalahan utama yang merupakan ketidakpuasan pada dunia internasional ini haruslah disikapi secara bijak oleh para pemegang kebijakan, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, faktor kemiskinan dan kegagalan mengelola negara menjadi faktor suburnya teroris dan terorisme. Karena itu perlu perbaikan dalam proses bernegara dan berdemokrasi.
            Bagi Indonesia, kunci pemberantasan terorisme terletak pada perbaikan taraf hidup masyarakat dan terlibatnya ulama-ormas Islam dalam proses deradikalisasi. Selama ini seolah negara-dalam hal ini Polri-berjuang dan menikmati ongkos bantuan asing sendiri, sehingga tidak efektif, karena hanya proses represif yang terjadi. Tindakan represif aparat yang tidak pas bisa menimbulkan simpati masyarakat pada para pelaku teroris, sehingga menimbulkan benih baru. Terorisme ini perlu segera dituntaskan, sehingga tidak menjadi dagangan elit politik dan Polri.
Salah satu faktor penting yang mendasari gerakan fundamentalis-radikal adalah tumbuh suburnya paham liberalisme Islam dalam struktur kenegaraan. Ini juga patut diwaspadai, karena liberalisme-Islam selalu berdampingan dengan kapitalisme Barat secara sosial, politik dan ekonomi. Ini merupakan jawaban dan protes keras terhadap kebebasan yang kebablasan, misalnya mengizinkan konvensi gay dan lesbian di negara mayoritas muslim. Ini jelas mengganggu psikologi masyarakat. Dalam kondisi kebebasan yang keterlaluan, akan terjadi vis a vis antara liberalisme dengan radikalisme, yang tentunya mengancam kehidupan sosial masyarakat.
Sebagai penutup, radikalisme dalam Islam nyatanya telah hadir sejak awal peradaban Islam, dan kehadirannya menjadi hikmah yang harus dipelajari dan dipedomani. Pada akhirnya, permasalahan ini harus diselesaikan sendiri oleh umat Islam, bukan disandarkan pada pihak lain, apalagi terus-menerus menyalahkan pihak lain. Sudah saatnya umat Islam lepas dari kejumudan dan taqlid buta pada ulama. Saatnya membuka lembaran baru serta berkomunikasi antar peradaban dunia, di mana Islam akan mampu merepresantasikan diri sebagai Rahmatan lil ‘Alamin.


C.     PENUTUP

Ø  KESIMPULAN
.Dalam makalah ini telah dibahas mengenai keterlibatan islam dalam gerakan teroriisme yang meliputi tentang terorisme, tindakan terorisme, terjadinya tindakan terorisme, pandangan islam tentang terorisme, solusi terhadap tindakan terorisme dan sebagainya.
Walaupun islam selalu dikait-kaitkan dengan terorisme, namun kita tahu hal tersebut karena campur tangan pihak-pihak yang sengaja merusak islam demi kepentingannya dan atau kelompoknya. Dan terorisme tidak lahir dari islam karena islam yang sebenarnya adalah agama yang damai.

Ø  SARAN
Hendaknya kita lebih hati-hati dalam mempelajari islam. Belajarlah islam sepenuhnya, jangan cuma sekedar setengah-setengah maupun ikut-ikutan saja. Karena jika sampai salah kita bisa terjebak tanpa kita sadari.

3 comments:

  1. Artikel yang bagus, tetapi menilik dari judulnya "Keterlibatan Islam dalam Gerakan Terorisme ?"
    seharusnya artikel ini tidak ditulis dengan sudut pandang dalam ajaran Islam, mungkin lebih tepatnya tulisan ini menggunakan sudut pandang fakta, fakta yang diambil dari berita2, ulasan2 yang tidak berhubungan dengan agama apapun juga.

    jikalau penulis ingin mempertahankan isi artikel yang menggunakan sudut pandang agama Islam mgkn judul yang lebih tepat adalah Pandangan agama Islam terhadap teroris.

    sekian

    ReplyDelete
  2. saya sangat setuju dengan anda.
    judulnya "Keterlibatan Islam dalam Gerakan Terorisme ?"
    judul tidak cocok degan isi. "Pandangan agama Islam terhadap teroris" sy rasa judul it cocok dgan artikel ini

    ReplyDelete
  3. Terimakasih atas usul judulnya. sudah saya ganti. jangan lupa berkunjung lagi :D

    ReplyDelete

1. "Blog ini Do Follow, silakan membuat komentar untuk mendapatkan Backlink"
2. "Kalau mau Copy-Paste artikel boleh saja, tapi sumbernya ke blog ini"